Kedudukan Arif Billah
Kedudukan ‘Arif Billah merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 21 Dzulqa’dah 1447 H / 8 Mei 2026 M.
Kajian Tentang Kedudukan ‘Arif Billah
Indikator Ahlul Makrifah
Imam Ibnu Qayyim menukil perkataan Imam al-Harawi yang menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai sifat para sahabat. Mereka memiliki ciri khas apabila mendengar wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 83)
Begitulah kondisi jiwa orang yang beriman dan mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagai ahlul makrifah, mereka yang mengenal kebenaran mutlak dari Allah akan menangis saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an atau nasihat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini terjadi karena hati mereka telah menyatu, memahami, serta menghayati kebenaran tersebut. Makrifah ini memberikan dampak positif yang nyata dalam kehidupan mereka.
Hubungan Makrifah dengan Rasa Takut
Imam Ibnu Qayyim juga menukil perkataan salah seorang ulama salaf, Ahmad bin Ashim rahimahullah, yang menyatakan bahwa barang siapa yang lebih mengenal Allah, maka ia akan lebih takut kepada-Nya. Sifat takut di dalam hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla berjalan seiring dengan tingkat makrifah seseorang.
Semakin bertambah ilmu seseorang dalam mengenal kebenaran dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin besar pula rasa takut serta cintanya kepada-Nya. Pernyataan ini diperkuat oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir[35]: 28)
Para ulama adalah mereka yang mengenal kebenaran, mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal agama-Nya, serta mengenal Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ilmu sebagai Pintu Khasyah kepada Allah
Ilmu yang dimiliki seseorang tentang Allah ‘Azza wa Jalla, agama-Nya, Rasul-Nya, serta seluruh permasalahan syariat akan melahirkan khasyatullah (خشية الله) atau sifat takut kepada Allah. Indikator terbesar yang menjelaskan kedalaman keilmuan dan makrifah seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah adanya sifat takut yang tertanam di dalam dirinya.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan manusia yang paling takut kepada Allah karena beliau adalah orang yang paling mengenal-Nya. Ketakwaan dan rasa takut beliau yang luar biasa bersumber dari kesempurnaan makrifah beliau terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً
“Aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian dan aku adalah orang yang paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari)
Mengenal Allah dan mengenal kebenaran secara otomatis akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang memahami tentang keagungan, kebesaran, kemuliaan, serta keperkasaan Allah, sehingga ilmu tersebut melahirkan ketundukan, kepatuhan, kepasrahan, kecintaan, serta pengagungan kepada-Nya.
Seorang yang berilmu juga mengenal hukum-hukum Allah, baik berupa perintah maupun larangan, serta memahami janji dan ancaman-Nya mengenai akhirat. Pengetahuan inilah yang membuatnya semakin takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin memiliki sifat takut kepada Allah, harus bersungguh-sungguh untuk mengenal Allah dan mengenal kebenaran. Sebaliknya, orang yang jahil atau bodoh akan sangat jauh dari sifat takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dahulu, sebagian ulama salaf menyatakan bahwa cukuplah rasa takut kepada Allah menjadi bukti keilmuan seseorang, dan cukuplah sikap ghurur (terlena atau terperdaya oleh diri sendiri) yang menyebabkan kelalaian serta kemaksiatan menjadi bukti kejahilannya.
Indikator Orang yang ‘Arif Billah (عارف بالله)
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan beberapa indikator orang-orang yang memiliki makrifah spesial kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak Suka Berdebat
Salah satu tanda utamanya adalah mereka tidak mudah menuntut dan tidak suka mencari permusuhan atau perdebatan.
Seorang yang ‘arif tidak menuntut balasan dari orang lain atas amalan dan perbuatan baiknya karena ia hanya beramal semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia juga tidak akan menyibukkan diri dalam diskusi atau perdebatan yang dapat menimbulkan permusuhan serta menjerumuskan pada kesombongan dan keangkuhan.
Baginya, kebenaran telah jelas sehingga tidak perlu lagi diperdebatkan. Agama bukanlah sesuatu yang harus terus-menerus dipertentangkan. Seseorang yang masih gemar memperdebatkan kebenaran yang sudah nyata menunjukkan bahwa ia sebenarnya belum benar-benar menemukan hakikat kebenaran itu. Jika ada pihak yang ingin mendebat permasalahan agama yang sudah jelas, seorang yang ‘arif tidak perlu meladeni perdebatan tersebut.
Seseorang yang masih gemar berdebat menunjukkan bahwa ia sedang mencari kebenaran yang masih hilang dalam keilmuannya. Sementara itu, seorang mukmin yang telah yakin dengan kebenaran agama, sunnah, keimanan, dan akidah yang dijunjung tinggi tidak merasa perlu melakukan perdebatan lagi. Dahulu, seorang ahli bid’ah mengajak salah seorang ulama salaf untuk berdebat, namun ulama tersebut menjawab:
“Sesungguhnya aku telah berada di atas keyakinan terhadap agamaku. Jika engkau masih dalam keraguan, pergilah dan carilah keyakinan itu.”
Tidak Akan Mencela
Orang yang ‘arif billah (عارف بالله) tidak akan mencela, meremehkan, atau merendahkan orang lain. Hal ini menunjukkan sifat tawadhu yang mendalam di dalam dirinya. Ia tidak pernah merasa memiliki kelebihan atau merasa lebih utama atas orang lain. Ia tidak memandang dirinya sebagai satu-satunya penyebab munculnya kebaikan.
Selain itu, ia tidak pernah merasa memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh orang lain kepadanya. Ia tidak menganggap dirinya paling berjasa dalam membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyebarkan kebenaran, atau menyampaikan Al-Haq. Segala perjuangan dan pengorbanannya dilakukan murni karena Allah ‘Azza wa Jalla, bukan untuk mendapatkan pujian atau membuktikan jasa guna mendapatkan imbalan.
Tidak Sedih Ketika Kehilangan Dunia
Indikator lain dari seorang yang ‘arif billah adalah tidak bersedih terhadap sesuatu yang telah berlalu atau hilang dari dirinya. Ia tidak menyesali dunia yang pergi, kekayaan yang sirna, atau kedudukan yang dicopot, karena ia menyadari bahwa dunia tidak kekal abadi.
Orang yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala memahami hakikat dunia yang sesaat dibandingkan dengan keagungan akhirat. Ia tidak bergembira secara berlebihan terhadap dunia yang didapatkan. Meskipun ia memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hatinya tidak pernah terpaut atau diperbudak oleh dunia. Ia menyadari bahwa dunia datang dan pergi, muncul lalu hilang, sehingga tidak ada alasan bagi hatinya untuk lalai dari akhirat.
Tidak Bahagia Berlebihan Ketika Mendapatkan Dunia
Seseorang yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan terjebak dalam euforia atau kegembiraan berlebihan saat mendapatkan sesuatu di dunia. Ia menyadari bahwa segala hal yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat sementara dan suatu saat akan hilang.
Imam Ibnu Qayyim menjelaskan alasan seorang mukmin tidak menyesali dunia yang hilang dan tidak sombong dengan dunia yang didapatkan. Hal ini karena ia memandang dunia dengan kacamata hakikat bahwa segala sesuatu akan hilang dan berakhir. Hakikat dunia di matanya hanyalah seperti bayang-bayang dan khayalan semata. Pandangan ini lahir karena ia mengenal Allah dan meyakini bahwa apa yang ada di sisi-Nya jauh lebih baik dan kekal. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 17)
Dunia pada hakikatnya tidak memiliki nilai yang mulia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا
“Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, serta orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu.” (HR. Tirmidzi)
Prioritas Kesedihan bagi Ahlul Makrifah
Ahlul makrifah memahami bahwa dunia hanyalah senda gurau dan permainan yang menipu. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah negeri akhirat:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut[29]: 64)
Seorang hamba tidak seharusnya meratapi dunia yang pergi atau berlebihan merayakan dunia yang datang. Sebaliknya, hal yang harus diratapi adalah saat agama, keimanan, akidah, kehormatan, dan akhlak mulai terkikis. Seseorang harus merasa sedih ketika prinsip kebenaran mulai ditinggalkan dan hati tidak lagi mampu menangis saat mendengar ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau nasihat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbaikan kualitas iman inilah yang menjadi prioritas utama.
Yahya bin Muadz rahimahullah menyatakan bahwa seorang yang ‘arif billah akan meninggalkan dunia ini dalam keadaan belum menuntaskan hajatnya pada dua hal. Pertama, tangisan yang meratapi kekurangan dirinya sendiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, pujian serta sanjungan yang tidak pernah putus kepada Rabbnya.
Seorang yang ‘arif billah tidak akan pernah merasa sempurna dalam melakukan dua hal utama dalam hidupnya, yaitu meratapi kekurangan diri dan memuji Rabbnya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menilai hal ini sebagai ungkapan yang sangat indah. Kesadaran ini muncul karena seorang hamba yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memahami hakikat dirinya yang penuh dengan aib, kekurangan, dan kecacatan.
Hamba tersebut menyadari bahwa dirinya sering kali berlumuran dosa, terjatuh dalam kesalahan, dan diliputi berbagai kelalaian. Ia sadar sepenuhnya bahwa jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mencurahkan rahmat dan karunia-Nya, maka ia akan celaka dan binasa. Oleh karena itu, ia senantiasa meratapi dan menangisi keadaan dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketidakmampuan Hamba Memuji Allah secara Sempurna
Di sisi lain, seorang yang ‘arif billah sangat mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala kesempurnaan dan keagungan-Nya. Ia meyakini bahwa segala bentuk ketaatan, pujian, dan pujaan yang ia sampaikan tidak akan pernah mampu menjangkau kesempurnaan yang hakiki bagi Rabbnya. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:
لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Aku tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (HR. Muslim)
Dua pemahaman ini, yakni pemahaman akan kekurangan diri dan pengagungan akan kebesaran Rabb, membuat seorang hamba selalu berada dalam kondisi rendah hati. Ia terus mengkritisi dirinya sendiri atas segala dosa dan kecacatan hidupnya, jauh lebih banyak daripada ia mengkritisi orang lain.
Sangat kontradiktif apabila seseorang menganggap dirinya telah bersih, merasa sebagai yang terbaik, atau bersikap seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Sikap tersebut hanyalah bentuk kesombongan, keangkuhan, dan ketertipuan terhadap diri sendiri. Seorang yang benar-benar ‘arif billah justru akan sangat merendahkan dirinya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla sambil terus membasahi lisan dan hatinya dengan zikir sebagai bentuk pengagungan.
Apabila ada seseorang yang mengaku sebagai ahli makrifah namun menunjukkan sifat sombong, angkuh, serta terlena dengan tipu daya dunia, maka pada hakikatnya ia adalah orang yang jahil (bodoh).
Seseorang yang mengaku makrifatullah namun jarang berdzikir dan tidak mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya adalah orang yang jahil (bodoh). Ahlul makrifah senantiasa meratapi diri karena menyadari banyaknya kekurangan serta kesalahan yang dilakukan. Di saat yang sama, mereka selalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dialah Yang Maha Agung, Maha Perkasa, dan Maha Sempurna yang berhak untuk dipuji dan diagungkan.
Manajemen Waktu Sang ‘Arif Billah
Seorang hamba hendaknya berusaha memanfaatkan waktu dan umur yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan. Salah satu indikator ‘arif billah adalah ia disebut sebagai ibnu waqtihi (anak waktunya). Hal ini bermakna ia tidak akan menunda-nunda kesempatan untuk berbuat kebaikan. Ia senantiasa sibuk memaksimalkan setiap detik yang dijalani untuk mempersiapkan bekal menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia tidak mengenal kata nanti dalam melakukan kebaikan, melainkan segera melakukan apa pun yang mampu dikerjakan saat ini demi mengumpulkan perbekalan akhirat.
Berusaha menjadi orang yang ‘arif billah dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan banyak manfaat. Interaksi tersebut dapat menghilangkan keraguan dalam diri, memotivasi untuk bersikap ikhlas, serta mendorong hamba untuk terus berzikir dan menjauhi kelalaian.
Bergaul dengan mereka akan menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup utama, menumbuhkan sifat tawadhu, serta menjauhkan diri dari kesombongan. Selain itu, kedekatan dengan orang saleh memudahkan seseorang untuk menerima nasihat tanpa rasa angkuh.
Semoga penjelasan ini membuka wawasan dan memberikan kiat untuk menjadi hamba yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Download MP3 Kajian Kedudukan Makrifatullah
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56230-kedudukan-arif-billah/